
Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global, Indonesia Perkuat Kolaborasi Regional melalui The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026
PRESS RELEASE
Indonesan Gas Society Editorial team
7/10/2026
Jakarta, Juli 2026 – Eskalasi ketidakpastian geopolitik dalam beberapa bulan terakhir kembali menempatkan ketahanan energi global sebagai perhatian utama. Gangguan terhadap arus perdagangan energi melalui Selat Hormuz meningkatkan perhatian dunia terhadap keamanan rantai pasok energi internasional dan menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dapat memengaruhi stabilitas pasar energi global.
International Energy Agency (IEA) dalam publikasi Strait of Hormuz Crisis Reinforces Need for Southeast Asia to Tackle Major Energy Vulnerabilities menyatakan bahwa krisis tersebut mengekspos kerentanan struktural sektor energi di Asia Tenggara. IEA menilai diversifikasi sumber energi, penguatan jalur pasok, serta peningkatan kerja sama regional menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. IEA juga memperkirakan Asia Tenggara akan menyumbang sekitar 20% pertumbuhan permintaan energi global dalam satu dekade mendatang. Sementara itu, dalam Gas Market Report Q2 2026, IEA menegaskan bahwa gangguan terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz meningkatkan volatilitas pasar gas global dan memperkuat pentingnya investasi berkelanjutan, diversifikasi portofolio kontrak, serta kolaborasi antara negara produsen dan konsumen untuk menjaga keamanan pasokan energi.
Dampak tersebut juga mulai tercermin pada pasar LNG global. Rystad Energy memperkirakan harga spot LNG Asia meningkat dari sekitar US$10 per MMBtu menjadi US$14 per MMBtu dalam skenario dasar, dan dapat mendekati US$30 per MMBtu apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik kini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika pasar LNG global.
Dalam konteks tersebut, kawasan Indo-Pasifik memiliki posisi yang semakin strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan kebutuhan energi dunia sekaligus tujuan utama perdagangan LNG global. Kondisi ini menjadikan ketahanan energi, diversifikasi pasokan, pembangunan infrastruktur, serta kolaborasi lintas negara sebagai agenda yang semakin penting untuk membangun sistem energi yang tangguh dan berkelanjutan.
Ketua Indonesian Gas Society (IGS), Aris Mulya Azof, menilai bahwa dinamika tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan energi masa depan tidak dapat diselesaikan oleh satu negara maupun satu pelaku industri saja.
"Lanskap LNG global sedang mengalami perubahan yang fundamental. Pergeseran geopolitik, perubahan pola perdagangan, dan semakin kuatnya komitmen dekarbonisasi mengubah cara negara-negara memandang ketahanan energi. Di tengah perubahan tersebut, kolaborasi regionalmenjadi semakin penting untuk memastikan pasokan energi yang aman, andal, dan berkelanjutan."
Menurutnya, perubahan lanskap energi global mempertegas bahwa ketahanan energi dan dekarbonisasi harus berjalan beriringan. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, industri gas bumi dituntut tidak hanya menjaga keandalan pasokan energi, tetapi juga meningkatkan kinerja lingkungan melalui pengurangan emisi metana, penerapan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), digitalisasi operasional, peningkatan transparansi emisi, serta pembangunan infrastruktur gas yang lebih tangguh. Dalam konteks tersebut, gas bumi tetap memiliki peran strategis sebagai energi transisi yang mendukung fleksibilitas sistem kelistrikan dan pencapaian target Net Zero Emissions.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Indonesian Gas Society (IGS) akan menyelenggarakan untuk ke lima kalinya , The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 pada 20–22 Juli 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, dengan mengangkat tema:
"The New Energy Trilemma: Balancing Security, Decarbonisation, and Geopolitical Stability."
Forum ini akan mempertemukan para pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, penyedia teknologi, serta pemimpin sektor energi dari berbagai negara untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari ketahanan rantai pasok LNG global, strategi diversifikasi pasokan energi, pembiayaan infrastruktur LNG, pengembangan small-scale LNG, penerapan teknologi rendah karbon, hingga kebijakan dekarbonisasi dan peluang investasi di kawasan Indo-Pasifik.
Berbagai sesi keynote dan panel discussion akan menghadirkan pembicara dari organisasi dan perusahaan/ asosiasi energi internasional , antara lain International Gas Union (IGU), PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rystad Energy, McKinsey & Company, JERA, Chubu Electric, ExxonMobil Cepu Limited, INPEX Corporation, Gazprom, Naturgas, serta berbagai institusi energi internasional lainnya.
Penyelenggaraan The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 didukung oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Ditjen Migas ESDM) serta International Gas Union (IGU) sebagai supporting organizations. Forum ini juga mendapat dukungan sebagai sponsor dari PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PT Pertamina Gas Negara (PGN), PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo), Mitsubishi Corporation, dan LNG Japan Corporation .
Konferensi ini diselenggarakan oleh Indonesian Gas Society (IGS) dan dikelola oleh IEEC sebagai event management partner, serta dilengkapi dengan workshop, technical visit, dan networking activities untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan.
Melalui penyelenggaraan The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026, IGS berharap forum ini dapat menjadi wadah dialog strategis yang menghasilkan perspektif baru, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta mendorong lahirnya solusi inovatif dalam membangun sistem energi yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika geopolitik global.
Tentang Indonesian Gas Society (IGS)
Indonesian Gas Society (IGS) merupakan organisasi nirlaba yang berkomitmen mendukung pengembangan industri gas bumi Indonesia melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Sebagai wadah pertukaran pengetahuan, pengembangan jejaring, dan advokasi kebijakan, IGS berperan aktif dalam mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai bagian penting dari sistem energi nasional yang aman, andal, kompetitif, dan berkelanjutan.
Tentang The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026
The 5th IndoPACIFIC LNG Summit merupakan forum internasional unggulan (flagship) dua tahun sekali (biennial) yang diselenggarakan oleh Indonesian Gas Society (IGS). Forum ini mempertemukan para pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, penyedia teknologi, serta para pemimpin sektor energi dari berbagai negara untuk membahas tantangan dan peluang strategis yang membentuk perkembangan industri LNG di kawasan Indo-Pasifik.
Penyelenggaraan The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 akan berlangsung pada 20–22 Juli 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, dengan mengangkat tema "The New Energy Trilemma: Balancing Security, Decarbonisation, and Geopolitical Stability." Rangkaian kegiatan meliputi konferensi internasional, workshop, technical visit, dan networking activities yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi regional, meningkatkan ketahanan energi, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
SIARAN PERS
Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global, Indonesia Perkuat Kolaborasi Regional melalui The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026




Jakarta, Juli 2026 – Eskalasi ketidakpastian geopolitik dalam beberapa bulan terakhir kembali menempatkan ketahanan energi global sebagai perhatian utama. Gangguan terhadap arus perdagangan energi melalui Selat Hormuz meningkatkan perhatian dunia terhadap keamanan rantai pasok energi internasional dan menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dapat memengaruhi stabilitas pasar energi global.
International Energy Agency (IEA) dalam publikasi Strait of Hormuz Crisis Reinforces Need for Southeast Asia to Tackle Major Energy Vulnerabilities menyatakan bahwa krisis tersebut mengekspos kerentanan struktural sektor energi di Asia Tenggara. IEA menilai diversifikasi sumber energi, penguatan jalur pasok, serta peningkatan kerja sama regional menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. IEA juga memperkirakan Asia Tenggara akan menyumbang sekitar 20% pertumbuhan permintaan energi global dalam satu dekade mendatang. Sementara itu, dalam Gas Market Report Q2 2026, IEA menegaskan bahwa gangguan terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz meningkatkan volatilitas pasar gas global dan memperkuat pentingnya investasi berkelanjutan, diversifikasi portofolio kontrak, serta kolaborasi antara negara produsen dan konsumen untuk menjaga keamanan pasokan energi.
Dampak tersebut juga mulai tercermin pada pasar LNG global. Rystad Energy memperkirakan harga spot LNG Asia meningkat dari sekitar US$10 per MMBtu menjadi US$14 per MMBtu dalam skenario dasar, dan dapat mendekati US$30 per MMBtu apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik kini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika pasar LNG global.
Dalam konteks tersebut, kawasan Indo-Pasifik memiliki posisi yang semakin strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan kebutuhan energi dunia sekaligus tujuan utama perdagangan LNG global. Kondisi ini menjadikan ketahanan energi, diversifikasi pasokan, pembangunan infrastruktur, serta kolaborasi lintas negara sebagai agenda yang semakin penting untuk membangun sistem energi yang tangguh dan berkelanjutan.
Ketua Indonesian Gas Society (IGS), Aris Mulya Azof, menilai bahwa dinamika tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan energi masa depan tidak dapat diselesaikan oleh satu negara maupun satu pelaku industri saja.
"Lanskap LNG global sedang mengalami perubahan yang fundamental. Pergeseran geopolitik, perubahan pola perdagangan, dan semakin kuatnya komitmen dekarbonisasi mengubah cara negara-negara memandang ketahanan energi. Di tengah perubahan tersebut, kolaborasi regionalmenjadi semakin penting untuk memastikan pasokan energi yang aman, andal, dan berkelanjutan."
Menurutnya, perubahan lanskap energi global mempertegas bahwa ketahanan energi dan dekarbonisasi harus berjalan beriringan. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, industri gas bumi dituntut tidak hanya menjaga keandalan pasokan energi, tetapi juga meningkatkan kinerja lingkungan melalui pengurangan emisi metana, penerapan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), digitalisasi operasional, peningkatan transparansi emisi, serta pembangunan infrastruktur gas yang lebih tangguh. Dalam konteks tersebut, gas bumi tetap memiliki peran strategis sebagai energi transisi yang mendukung fleksibilitas sistem kelistrikan dan pencapaian target Net Zero Emissions.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Indonesian Gas Society (IGS) akan menyelenggarakan untuk ke lima kalinya , The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 pada 20–22 Juli 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, dengan mengangkat tema:
"The New Energy Trilemma: Balancing Security, Decarbonisation, and Geopolitical Stability."
Forum ini akan mempertemukan para pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, penyedia teknologi, serta pemimpin sektor energi dari berbagai negara untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari ketahanan rantai pasok LNG global, strategi diversifikasi pasokan energi, pembiayaan infrastruktur LNG, pengembangan small-scale LNG, penerapan teknologi rendah karbon, hingga kebijakan dekarbonisasi dan peluang investasi di kawasan Indo-Pasifik.
Berbagai sesi keynote dan panel discussion akan menghadirkan pembicara dari organisasi dan perusahaan/ asosiasi energi internasional , antara lain International Gas Union (IGU), PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rystad Energy, McKinsey & Company, JERA, Chubu Electric, ExxonMobil Cepu Limited, INPEX Corporation, Gazprom, Naturgas, serta berbagai institusi energi internasional lainnya.
Penyelenggaraan The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 didukung oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Ditjen Migas ESDM) serta International Gas Union (IGU) sebagai supporting organizations. Forum ini juga mendapat dukungan sebagai sponsor dari PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PT Pertamina Gas Negara (PGN), PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo), Mitsubishi Corporation, dan LNG Japan Corporation .
Konferensi ini diselenggarakan oleh Indonesian Gas Society (IGS) dan dikelola oleh IEEC sebagai event management partner, serta dilengkapi dengan workshop, technical visit, dan networking activities untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan.
Melalui penyelenggaraan The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026, IGS berharap forum ini dapat menjadi wadah dialog strategis yang menghasilkan perspektif baru, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta mendorong lahirnya solusi inovatif dalam membangun sistem energi yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika geopolitik global.
Tentang Indonesian Gas Society (IGS)
Indonesian Gas Society (IGS) merupakan organisasi nirlaba yang berkomitmen mendukung pengembangan industri gas bumi Indonesia melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Sebagai wadah pertukaran pengetahuan, pengembangan jejaring, dan advokasi kebijakan, IGS berperan aktif dalam mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai bagian penting dari sistem energi nasional yang aman, andal, kompetitif, dan berkelanjutan.
Tentang The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026
The 5th IndoPACIFIC LNG Summit merupakan forum internasional unggulan (flagship) dua tahun sekali (biennial) yang diselenggarakan oleh Indonesian Gas Society (IGS). Forum ini mempertemukan para pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, penyedia teknologi, serta para pemimpin sektor energi dari berbagai negara untuk membahas tantangan dan peluang strategis yang membentuk perkembangan industri LNG di kawasan Indo-Pasifik.
Penyelenggaraan The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 akan berlangsung pada 20–22 Juli 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, dengan mengangkat tema "The New Energy Trilemma: Balancing Security, Decarbonisation, and Geopolitical Stability." Rangkaian kegiatan meliputi konferensi internasional, workshop, technical visit, dan networking activities yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi regional, meningkatkan ketahanan energi, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
SIARAN PERS
Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global, Indonesia Perkuat Kolaborasi Regional melalui The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026




Office:
Rasuna Office Park, 3rd Floor Unit TO-07
Complex Rasuna Epicentrum
Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta 12960
Tel : +62 21 8378 3757, 8379 5203
Fax : +62 21 8378 1126, 8379 5302
Email : secretariat@indonesiangassociety.com
© 2014. Indonesian Gas Society. All rights reserved.


Mailing Address:
Jl.Kebon Baru 3 No.4 RT.03/RW.09 Tebet, Asem Baris,Jakarta Selatan, 12830
